Sabtu, 25 Februari 2012

INABAH XX

PONDOK REMAJA INABAH  XX  
YAYASAN SERBA  BAKTI PUSAT
PONDOK PESANTREN SURYALAYA
Telp.       :   0265. 455330 HP.
HP Mobile     :   085223477692, 085223675096

KH.MA'MUN DAN ISTRI
Anak Binaan Rutinitas Ibadah

Rutinitas Ibadah


Kebersamaan Akan Membangun Jiwa Yang Sehat


Acara Korban



                                                                                                                                .


 

 Inabah
Inabah adalah istilah yang berasal dari Bahasa Arab anaba-yunibu (mengembalikan) sehingga inabah berarti pengembalian atau pemulihan, maksudnya proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauhi Allah ke jalan yang mendekat ke Allah. Istilah ini digunakan pula dalam Al-Qur’an yakni dalam Luqman surat ke-31 ayat ke-15, Surat ke-42, Al-Syura ayat ke-10; dan pada surat yang lainnya.

Abah Anom menggunakan nama inabah menjadi metode bagi program rehabilitasi pecandu narkotika, remaja-remaja nakal, dan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Konsep perawatan korban penyalahgunaan obat serta kenakalan remaja adalah mengembalikan orang dari perilaku yang selalu menentang kehendak Allah atau maksiat, kepada perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah atau taat.

Dari sudut pandang tasawuf orang yang sedang mabuk, yang jiwanya sedang goncang dan terganggu, sehingga diperlukan metode pemulihan (inabah). Metode inabah baik secara teoretis maupun praktis didasarkan pada Al-Qur’an, hadits dan ijtihad para ulama, Metode ini mencakup :
Mandi.
Lemahnya kesadaran anak bina akibat mabuk, dapat dipulihkan dengan mandi dan wudlu. Mandi dan wudlu akan mensucikan tubuh dan jiwa sehingga siap untuk 'kembali' menghadap Allah Yang Maha Suci.
Makna simbolik dari wudlu adalah: mencuci muka, mensucikan bagian tubuh yang mengekspresikan jiwa; mencuci lengan, mensucikan perbuatan; membasuh kepala, mensucikan otak yang mengendalikan seluruh aktifitas tubuh; membasuh kaki, dan mensucikan setiap langkah perbuatan dalam hidup.


Sholat.
Anak bina yang telah di bersihkan atau disucikan melalui proses mandi dan wudlu, akan dituntun untuk melaksanakan sholat fardhu dan sunnah sesuai dengan metode inabah. Tuntunan pelaksanaan sholat fardhu dan sunnah sesuai dengan ajaran islam dan kurikulum ibadah yang dibuat oleh Abah Anom.

Talqin Dzikir.
Anak bina yang telah pulih kesadarannya diajarkan dzikir melalui talqîn dzikr. Talqin dzikir adalah pembelajaran dzikir pada qalbu. Dzikir tidak cukup diajarkan dengan mulut untuk ditirukan dengan mulut pula, melainkan harus dipancarkan dari qalbu untuk dihunjamkan ke dalam qalbu yang di talqin. Yang dapat melakukan talqin dzikir hanyalah orang-orang yang qalbunya sehat (bersih dari syirik) dan kuat (berisi cahaya ilahi).

Pembinaan.
Anak bina ditempatkan pada pondok inabah guna mengikuti program Inabah sepanjang 24 jam. Kurikulum pembinaan ditetapkan oleh Abah Anom mencakup mandi dan wudlu, shalat dan dzikir, serta ibadah lainnya.



Pondok Inabah II untuk Putri

Disamping kegiatan-kegiatan tersebut diatas, juga diberikan kegiatan tambahan berupa : Pelajaran baca Al-Qur’an, berdoa, tata cara ibadah, ceramah keagamaan dan olah raga. Setiap anak bina di evaluasi untuk mengetahui sejauhmana perkembangan kesehatan jasmani dan rohaninya. Evaluasi diberikan dalam bentuk wawancara atau penyuluhan oleh ustadz atau oleh para pembina inabah yang bersangkutan.
Atas keberhasilan metoda Inabah tersebut, KH.A Shohibulwafa Tajul Arifin mendapat penghargaan “Distinguished Service Awards” dari IFNGO on Drug Abuse, dan juga penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya di bidang rehabilitasi korban Narkotika dan Kenakalan remaja.


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh DR. Juhaya S. Praja, dalam tahun 1981-1989, 93,1% dari 5.845 anak bina yang mengikuti program inabah dapat dikembalikan ke keadaan semula dan dapat kembali hidup di masyarakat dengan normal.


Anak bina sedang berkonsultasi
dengan pembina



Anak bina sedang belajar baca Al-Quran

Lokasi-Lokasi inabah

Nama
Tempat/ Lokasi
Pengurus/ Pembina
Keterangan
Inabah I Putra
Ds. Cibeureum, Panjalu Kab. CiamisJawa Barat
H. Anangsyah
Aktif
Inabah II Putri
Ds. Ciceuri, Ciomas, Panjalu Kab. Ciamis Jawa Barat
Hj. Rosliani Hasnah Gaos
Aktif
Inabah III Putra
Pacet, Majalaya, Kab. Bandung
H. Dani Suhendar
Aktif
Inabah IV Putra Banjarsari, Banjar Kab. Tasikmalaya KH. Drs. Otong Sidik J.
Aktif
Inabah V Putra
Cihanjuang Abdullah
Tidak Aktif
Inabah VI Putra Kodya Bandung H. Ali
Aktif
Inabah VII Putra Kp. Rawa, Rajapolah, Kab. Tasikmalaya H. Anwar Mahmud
Aktif
Inabah VIII Putra Kodya Bogor Ir. H. Garjita Garwita
Aktif
Inabah IX Putra Cilembang H. Utad
Tidak Aktif
Inabah X Putra Kedah, Malaysia Ust. H. Moh Zuki As Syuja
Aktif
Inabah XI Putra Pagersari, Ciawi, Kab. Tasikmalaya H. Zaenal Arifin
Aktif
Inabah XII Putra Cilolohan H. Syarif
Tidak Aktif
Inabah XIII Putra Kodya, Yogyakarta Drs. Sentot Heryanto, MPSi
Aktif
Inabah XIV Putra Garut Subhan Farid
Aktif
Inabah XV Putra Kec. Pagerageung, Ciawi Tasikmalaya Oman Abdurrachman MP.
Aktif
Inabah XVI Putra Sangkan Hurip - Kuningan H. Santoso
Tidak Aktif
Inabah XVII Putra Sukamulya, Kab. Ciamis Dudung Abdullah
Aktif
Inabah XVIII Putra Cibeureum - Tasikmalaya H. Bahri
Tidak Aktif
Inabah XIX Putra Surabaya HM. Ali Hanafiah
Aktif
Inabah XX Puteran Pagerageung
Tasikmalaya
KH. Mak'mun Suhandi Aktif
Inabah XXI Trengganu, Malaysia Ustd.H. Otsman bin Abd Latif
Aktif
Inabah XXIII Karangnunggal, Kab. Tasikmalaya Jajang Kamaludin
Aktif
Inabah XXIV Warudoyong - Sindang Herang - Ciamis R. Bobon Setiaji
Aktif
Inabah XXV Cianjur Tatang. S
Aktif
Inabah XXII Pamokolan - Panumbangan - Ciamis H. Odjon
Aktif

 

Abah Anom Wafat



Abah Anaom Rn
Jakarta (ANTARA News) - Kalau disebutkan nama KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, boleh jadi sedikit saja orang yang tahu siapa tokoh ini. Tapi kalau disebut nama Abah Anom, asosiasi pikiran langsung menuju Pondok Pesantren Inabah Suryalaya di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Ini bukan pondok pesantren biasa, karena bisa dikatakan menjadi pondok pesantren perintis untuk menanggulangi ketergantungan obat menyandarkan diri pada nilai-nilai hakiki agama Islam.
Dia adalah Abah Anom, pendiri pondok pesantren itu, yang kini telah berpulang memenuhi panggilan Sang Khalik, di Tasikmalaya, pada pukul 11.55 WIB, Senin. Usianya saat meninggalkan pondok pesantren kesayangannya itu 96 tahun, usia sangat sepuh untuk ukuran masa kini.
Ribuan santri dan masyarakat di Tasikmalaya dan sekitarnya menunggui rumah sakit Tasikmalaya Medical Centre, tempat Abah Anom dirawat hingga saat terakhir dia. Abah memang sangat mengakar di sana; juga sangat disayangi karena dia sudah menjadi "abah" (bapak dalam bahasa Sunda) bagi siapa saja di sana.
Menurut informasi, Abah Anom akan dimakamkan di Tanjungkerta, Tasikmalaya, pada Selasa besok (6/9). Banyak sekali yang berduka dan terkesiap dengan kabar kehilangan ini. Wakil Presiden Boediono pun --jika tidak ada aral melintang-- akan hadir pada pemakaman itu.  
Tasawuf dan Pesantren Inabah Suryalaya
Abah Anom terlahir pada 1 Januari 1915 di Suryalaya, Tasikmalaya. Ia anak kelima dari Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad, atau Abah Sepuh, pendiri Pesantren Suryalaya. Sebuah pesantren tasawuf yang khusus mengajarkan Thariqat Qadiriyyah Naqsabandiyah (TQN).
Ia memasuki bangku sekolah dasar (Vervooleg school) di Ciamis, pada usia 8 tahun. Lima tahun kemudian melanjutkan ke madrasah tsanawiyah di kota yang sama. Usai tsanawiyah, barulah ia belajar ilmu agama Islam, secara lebih khusus di berbagai pesantren.
Kegemarannya menuntut ilmu, menyebabkan Abah Anom menguasai berbagai macam ilmu keislaman pada usia relatif muda (18 tahun). Didukung ketertarikannya pada dunia pesantren, telah mendorong ayahnya yang tokoh Thoriqot Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) untuk mengajarinya dzikir TQN. Sehingga ia menjadi wakil talqin ayahnya pada usia relatif muda.
Mungkin sejak itulah, ia lebih di kenal dengan sebutan Abah Anom. Ia resmi menjadi mursyid (pembimbing) TQN di Pesantren tasawuf itu sejak tahun 1950. Sebuah masa yang rawan dengan berbagai kekerasan bersenjata antar berbagai kelompok yang ada di masyarakat, terutama antara DI/TII melawan TNI.
"Tasawuf tidak hanya produk asli Islam, tapi ia telah berhasil mengembalikan umat Islam kepada keaslian agamanya pada kurun-kurun tertentu," katanya, tentang eksistensi tasawuf dalam ajaran Islam.
Tasawuf yang dipahami Abah Anom, bukanlah kebanyakan tasawuf yang cenderung mengabaikan syari’ah karena mengutamakan dhauq (rasa). Menurutnya, sufi dan pengamal tarekat tidak boleh meninggalkan ilmu syari’ah atau ilmu fiqih. Bahkan, menurutnya lagi, ilmu syari’ah adalah jalan menuju ma’rifat.
Pada tahun 50-60-an kondisi perekonomian rakyat amat mengkhawatirkan. Abah Anom turun sebagai pelopor pemberdayaan ekonomi umat. Ia aktif membangun irigasi untuk mengatur pertanian, juga pembangunan kincir angin untuk pembangkit tenaga listrik.
Medan pertempuran bukanlah wilayah asing bagi Abah Anom. Pada masa-masa perang kemerdekaan, bersama Brigadir Jenderal Akil bahu-membahu memulihkan keamanan dan ketertiban di wilayahnya. Ketika pemberontakan PKI meletus (1965), ia bersama para santrinya melakukan perlawanan bersenjata.
Bahkan tidak hanya sampai di situ, Abah Anom membuat program “rehabilitasi rohani” bagi para mantan PKI. Tak heran, jika Abah mendapat berbagai penghargaan dari Jawatan Rohani Islam Kodam VI Siliwangi, Gubernur Jawa Barat dan instansi lainnya.
Medan pendidikan juga tak luput dari ruang aktivitasnya. Mulai dari pendirian Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah ‘Aliyah pada tahun 1977, sampai pendirian Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah pada tahun 1986.
Inabah
Mengentaskan manusia dari limbah kenistaan bukanlah perkara mudah. Abah Anom memiliki landasan teoritis yang kuat untuk merumuskan metode penyembuhan ruhani, semuanya ada dalam nama pesantren itu sendiri yaitu, Inabah.
Abah Anom menjadikan Inabah tidak hanya sekedar nama bagi pesantrennya, tapi lebih dari itu, ia adalah landasan teoritis untuk membebaskan pasien dari gangguan kejiwaan karena ketergantungan terhadap obat-obat terlarang.
Dalam kacamata tasawuf, ia adalah nama sebuah peringkat rohani (maqam), yang harus dilalui seorang sufi dalam perjalanan ruhani menuju Allah swt.
"..Salah satu hasil dari muraqabatullah adalah al-inabah yang maknanya kembali dari maksiat menuju kepada ketaatan kepada Allah karena merasa malu 'melihat' Allah,” jelas Abah yang merujuk pada kitab Taharat Al-Qulub.
Dalam teori inabah, untuk menancapkan iman dalam qalbu, tak ada cara lain kecuali dengan dzikir laa ilaha ilallah, cara ini di kalangan TQN disebut talqin.
Demikian juga dalam mesikapi mereka yang dirawat di pesantren Inabah. Mereka harus diberikan ‘pedang’ untuk menghalau musuh-musuh di dalam hati mereka, pedang itu adalah dzikrullah.
Orang-orang yang dirawat di Inabah diperlakukan seperti orang yang terkena penyakit hati, yang terjebak dalam kesulitan, kebingungan dan kesedihan.
Mereka telah dilalaikan dan disesatkan setan sehingga tak mampu lagi berdzikir pada-Nya. Ibarat orang yang tak memiliki senjata lagi menghadapi musuh-musuhnya. Walhasil, obat untuk mereka adalah dzikir.
Shalat adalah salah satu bentuk dzikir. Menurut pandangan Abah Anom, para pasien itu belum dapat shalat karena masih dalam keadaan mabuk (sukara), karena itu langkah awalnya adalah menyadarkan mereka dari keadaan mabuk dengan mandi junub. Apalagi sifat pemabuk adalah ghadab (pemarah), yang merupakan perbuatan syaithan yang terbuat dari api. Obatnya tiada lain kecuali air.
Jadi, selain dzikir dan shalat, untuk menyembuhkan para pasien itu digunakan metode wudlu dan mandi junub. Perpaduan kedua metode itu sampai kini tetap digunakan Abah Anom untuk mengobati para pasiennya dari yang paling ringan sampai yang paling berat, dan cukup berhasil.
Buktinya, cabang Inabah tak hanya di Indonesia, di Singapura langsung berdiri sebuah cabang serta Malaysia dua buah cabang. Belum lagi tamu-tamu yang mengalir dari berbagai benua seperti Afrika, Eropa dan Amerika.


Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar